Serangan Udara Israel di Doha Picu Badai Kecaman Global

 

Ledakan di Doha, Qatar (Sumber: BBC)


Jakarta – Israel melancarkan serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di jantung ibu kota Qatar, Doha, pada tanggal 8 dan 9 September 2025. Serangan yang menargetkan para pemimpin Hamas ini telah memicu badai kecaman internasional, menyulut kemarahan serentak dari negara-negara Arab dan Islam, serta mendorong kawasan Timur Tengah ke ambang konflik yang lebih luas.

Militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa mereka melakukan serangan presisi yang menargetkan para pejabat senior Hamas yang berada di Doha. Perdana Menteri Israel dalam sebuah pernyataan mengklaim tanggung jawab penuh atas operasi tersebut, dengan menyatakan bahwa serangan itu adalah balasan atas sejumlah aksi terorisme yang didalangi oleh kelompok tersebut. "Hari-hari di mana para pemimpin teror menikmati kekebalan di mana pun telah berakhir," tegasnya, seraya menuduh Qatar menyediakan "vila-vila mewah dan surga yang aman" bagi Hamas.

Serangan tersebut terjadi pada momen yang sangat krusial, tepat ketika para negosiator Hamas sedang mengkaji proposal gencatan senjata terbaru yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Tindakan ini dinilai banyak pihak sebagai upaya sabotase terhadap proses perdamaian yang sedang berjalan.

Reaksi dunia atas serangan ini datang dengan cepat dan keras. Qatar, sebagai tuan rumah, mengutuk serangan itu sebagai "pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan negara" dan sebuah "tindakan kriminal yang membahayakan keamanan regional."

Dunia Arab dan Islam menunjukkan persatuan yang solid dalam mengutuk agresi tersebut. Arab Saudi menyebutnya sebagai "agresi brutal" dan menegaskan "solidaritas penuh" dengan Qatar. Iran, Turki, Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab menyuarakan sentimen serupa, memperingatkan adanya "konsekuensi serius" dari tindakan Israel. Dalam sebuah langkah eskalasi diplomatik, beberapa negara dilaporkan mempertimbangkan untuk menarik duta besar mereka dan meninjau kembali hubungan dengan Israel.

KTT darurat Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera digelar di Doha, menghasilkan komunike bersama yang mengutuk tindakan Israel sebagai terorisme negara dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Para pemimpin menyerukan komunitas internasional untuk mengambil tindakan tegas dan tidak membiarkan serangan ini terjadi tanpa hukuman.

Di panggung global, Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat di mana mayoritas anggota, termasuk sekutu dekat Israel, Amerika Serikat, menyuarakan keprihatinan mendalam. PBB menyebut serangan itu sebagai "pelanggaran mencolok" terhadap kedaulatan Qatar dan "eskalasi yang mengkhawatirkan."

Meskipun mendapat tekanan, Israel tetap pada pendiriannya. Juru bicara militer menyatakan bahwa operasi itu diperlukan untuk melenyapkan ancaman berkelanjutan terhadap keamanan warga negaranya. Namun, serangan di wilayah negara yang selama ini berperan sebagai mediator kunci telah menimbulkan pertanyaan serius tentang strategi Israel dan dampaknya terhadap stabilitas regional.

Analis politik menilai serangan ini telah meruntuhkan marwah dan kesabaran negara-negara Arab yang selama beberapa tahun terakhir mencoba menormalisasi hubungan dengan Israel. Tindakan di Doha dianggap sebagai garis merah yang telah dilintasi, memaksa banyak negara untuk mengevaluasi kembali posisi mereka. Insiden ini secara efektif telah membekukan, jika tidak mematikan, segala upaya diplomatik yang sedang berlangsung dan berisiko menyeret negara-negara lain ke dalam konflik.

Kini, masa depan Timur Tengah berada di persimpangan jalan yang genting. Eskalasi lebih lanjut dapat memicu perang regional yang lebih destruktif. Sementara itu, komunitas internasional terus menyerukan de-eskalasi dan menahan diri, berharap diplomasi dapat menarik kawasan ini kembali dari tepi jurang kehancuran.

Posting Komentar

0 Komentar