Kolaborasi Manusia dan Mesin Adalah Arah Baru Jurnalisme Indonesia

 

Salman Alfarisi Menjelaskan Peran AI pada Acara "Journey 2025" di Politeknik Negeri Jakarta. Selasa (30/09/2025)
Depok - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah menjadi sebuah topik diskusi yang signifikan di berbagai sektor industri, termasuk dalam dunia jurnalistik. Hadirnya teknologi ini menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan profesi jurnalis dan editor, dimana banyak kekhawatiran muncul bahwa peran mereka dapat tergerus oleh kemampuan mesin yang semakin canggih.

Menanggapi hal tersebut, seorang praktisi media bernama Salman Alfarisi, atau yang akrab disapa Al, memberikan sebuah perspektif yang berbeda. Dalam sebuah acara diskusi interaktif Journey 2025 yang diselenggarakan di auditorium Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) pada hari Selasa (30/9/2025), ia menjelaskan bahwa masa depan jurnalisme bukanlah tentang eliminasi peran manusia oleh AI. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya kolaborasi dan adaptasi antara manusia dan teknologi untuk dapat menghasilkan produk jurnalistik yang memiliki kualitas lebih tinggi serta proses kerja yang lebih efisien. Menurut Salman, pemahaman mendasar yang harus dimiliki adalah memposisikan AI sebagai sebuah alat bantu (tool), bukan sebagai pengganti dari proses nalar dan penerapan etika yang dimiliki oleh manusia. "AI itu enggak bakalan secanggih kalau misalnya kita kurasi atau kita mainkan," ujar Salman, yang menekankan bahwa kendali akhir dan kreativitas manusia tetap menjadi faktor yang paling utama.

Memahami Spesialisasi Perangkat AI

Langkah awal yang perlu dilakukan oleh para jurnalis adalah dengan mengenali karakteristik dari berbagai platform AI yang telah tersedia. Salman memaparkan bahwa setiap model AI mempunyai keunggulan yang unik, yang sangat dipengaruhi oleh jenis data yang digunakan dalam proses pelatihannya. Sebagai contoh, ChatGPT menunjukkan performa yang sangat baik dalam hal pengolahan dan generasi teks. Hal ini disebabkan karena platform tersebut dilatih secara ekstensif menggunakan data teks dalam jumlah masif dari beragam sumber. "Kalau si ChatGPT itu dia lebih baik tuh di dalam penulisan. Jadi kalau nulis-nulis sesuatu, bikin kata-kata, ChatGPT itu bagus banget," jelasnya lebih lanjut.

Di sisi lain, platform Gemini yang dikembangkan oleh Google memiliki keunggulan dalam hal generasi konten visual seperti gambar dan video. Keunggulan ini berasal dari ekosistem Google yang sangat kaya akan data visual, termasuk di dalamnya Google Images dan perpustakaan video YouTube yang sangat besar. Salman menambahkan bahwa model AI milik Google "lebih banyak nonton video dibandingkan baca teks," yang menjadi alasan kemampuannya dalam memahami dan menciptakan konten visual yang kompleks. Sementara itu, platform lain seperti Claude disebut lebih optimal untuk digunakan pada kebutuhan teknis, contohnya seperti  coding.

NotebookLM sebagai Alat Bantu Jurnalis

Dari sekian banyak perangkat yang ada, Salman secara spesifik merekomendasikan NotebookLM sebagai platform yang ia anggap paling sesuai untuk alur kerja jurnalistik yang profesional. Perbedaan utama NotebookLM dengan AI generatif lainnya adalah cara kerjanya yang berada dalam ekosistem tertutup. Jurnalis dapat mengunggah sumber-sumber informasi yang sudah terverifikasi, seperti transkrip wawancara, dokumen riset, atau siaran pers, ke dalam platform. Kemudian, AI akan memproses informasi dan menghasilkan analisis atau draf tulisan yang hanya berdasar pada sumber yang telah diberikan tersebut, sehingga mengurangi risiko disinformasi. "Enaknya NotebookLM, teman-teman tuh kayak detektif lah. Kita kumpulin sebuah bukti, nanti buktinya tuh mengarah sebuah penulisan yang komprehensif banget," katanya.

Potensi dari platform ini telah terbukti dalam sebuah kasus dimana Kepolisian New York (NYPD) menggunakannya untuk membantu proses penangkapan seorang kriminal. Tim investigasi mengunggah semua bukti relevan ke dalam platform, dan AI berhasil membantu menemukan lokasi persembunyian target dengan menyintesis informasi tersebut.

Pergeseran Fungsi, Bukan Penggantian Peran

Pertanyaan mengenai apakah AI akan menggantikan peran editor atau penyunting berita dijawab dengan tegas oleh Salman: tidak, asalkan ada kemauan untuk beradaptasi. Posisi jurnalis tidak akan hilang, namun fungsinya akan mengalami pergeseran yang fundamental. Ia menganalogikan transisi ini dengan revolusi industri, di mana fokus pekerjaan bergeser dari tenaga fisik menjadi operator mesin. Dalam jurnalisme, fokusnya akan bergeser dari tugas-tugas teknis yang repetitif menjadi seorang operator dan kurator AI. AI cenderung menghasilkan bahasa yang "datar-datar aja," sehingga peran manusia menjadi krusial untuk melakukan verifikasi fakta, menambahkan analisis kritis, serta menyajikan sisi emosional dan manusiawi dalam sebuah tulisan. Keahlian baru yang juga harus dikuasai adalah menjadi seorang prompt engineer, atau ahli dalam merumuskan perintah yang efektif untuk AI.

Tantangan dan Risiko Pemanfaatan AI

Meskipun memiliki banyak potensi, pemanfaatan AI juga membawa risiko. Salah satu tantangan terbesarnya adalah potensi produksi konten berkualitas rendah secara massal. Salman menyoroti praktik beberapa media yang mungkin menggunakan AI untuk menduplikasi satu berita menjadi puluhan artikel serupa di berbagai portal. Praktik ini dapat mengorbankan nilai berita dan menghasilkan jurnalisme yang dangkal. Selain itu, isu mengenai bias AI juga perlu diperhatikan, karena mayoritas data pelatihannya berasal dari Barat.

Pada akhirnya, Salman meyakini bahwa AI tidak akan pernah bisa beroperasi sepenuhnya tanpa ada pengawasan dari manusia. Ia menggunakan analogi mobil otonom Tesla, yang meskipun canggih, tetap mewajibkan adanya pengemudi di belakang setir. Prinsip yang sama berlaku untuk jurnalisme. "AI itu harus diawasin juga, at least sama manusia yang menggunakannya," pungkasnya. Dengan demikian, masa depan industri media akan bergantung pada bagaimana para jurnalis memposisikan diri dalam menghadapi teknologi ini.

Posting Komentar

0 Komentar