Ada satu hal kecil yang sering kita lupakan: Menunggu.
Di
era serba instan ini, menunggu terasa seperti sebuah anomali, aktivitas yang
dianggap hanya membuang waktu. Kita menginginkan segalanya datang secepat kilat,
pesan singkat, kiriman barang, bahkan kebahagiaan. Namun, beberapa hari lalu,
di tengah riuhnya jam makan siang di kantin kampus, saya justru menemukan makna
yang berbeda saat menunggu makanan saya.
Awalnya, seperti kebiasaan banyak orang, saya berdiri di
antrean sambil menunduk menatap layar ponsel. Jari saya tanpa henti menggulir
linimasa, melompat dari satu notifikasi ke notifikasi lainnya. Lima menit
terasa begitu lama dan membosankan ketika dunia saya hanya selebar layar enam
inci itu. Merasa jenuh, akhirnya saya memasukkan ponsel ke dalam saku dan
mengangkat kepala. Seketika, dunia di sekitar saya yang tadinya hanya suara
bising tak berarti, kini berubah menjadi sebuah panggung yang penuh dengan cerita.
Di
sudut kantin, ada sekelompok mahasiswa yang asyik berdiskusi di meja mereka. Tak jauh dari sana, Seorang
mahasiswa lain tampak grogi menunggu seseorang, ia berkali-kali merapikan
rambutnya sambil melirik ke arah pintu masuk.
Perhatian saya lalu beralih ke sumber keramaian: konter
makanan. Seorang ibu paruh baya dengan cekatan meracik pesanan, tangannya
bergerak lincah dari wajan ke piring, dari piring ke pelanggan. Wajahnya yang
dibasahi keringat menunjukkan kelelahan, namun gerakannya penuh konsentrasi dan
ritme yang teratur, sebuah tarian efisiensi di tengah lautan kelaparan
mahasiswa.
Tiba-tiba, lima menit yang tadinya terasa sia-sia itu
berubah menjadi sebuah cerita yang beragam. Saya sadar, menunggu bukanlah
ruang hampa. Menunggu adalah kesempatan langka untuk berhenti, menarik napas,
dan benar-benar hadir di momen itu. Ia adalah jeda yang mengizinkan kita untuk
memperhatikan detail-detail kehidupan yang sering terlewatkan.
"Mas, makanannya udah selesai!" Suara ibu
kantin menyadarkan saya bahwa pesanan saya sudah siap, hangat dengan aroma yang
menggugah selera. Siang itu, saya kembali ke kelas tidak hanya dengan perut
yang kenyang, tetapi juga dengan sebuah pengingat berharga: ada dunia yang jauh
lebih menarik di luar sana, jika saja kita mau berhenti menatap layar, dan
mulai menatap sekitar.
0 Komentar