Banjir Terparah dalam Satu Dekade Landa Bali, Puluhan Jiwa Melayang dan Ribuan Warga Terdampak

 

Banjir di Bali (Sumber: Mongabay)

Jakarta – Pulau Dewata berduka setelah dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor besar pada pertengahan September 2025. Hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur tanpa henti sejak Selasa (9/9) hingga Rabu (10/9) menjadi pemicu utama salah satu bencana hidrometeorologi terparah yang pernah tercatat di Bali dalam sepuluh tahun terakhir. Akibatnya, puluhan orang meninggal dunia, ribuan lainnya terpaksa mengungsi, dan kerugian materiil ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Bali, hingga akhir pekan ketiga September, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 18 jiwa, dengan beberapa orang sempat dilaporkan hilang terseret arus. Korban jiwa tersebar di beberapa wilayah, dengan Kota Denpasar mencatat angka tertinggi, diikuti oleh Kabupaten Gianyar, Jembrana, dan Badung.

Banjir merendam ratusan titik di setidaknya tujuh kabupaten/kota, termasuk kawasan vital yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata. Wilayah yang paling parah terdampak adalah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan, dan Jembrana. Ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan mencapai dada orang dewasa, melumpuhkan total akses transportasi, merusak ratusan rumah warga, fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah, serta infrastruktur vital seperti jembatan dan jalan raya. Jalan utama Denpasar-Gilimanuk di Kabupaten Jembrana bahkan sempat putus total, mengisolasi sebagian wilayah di barat Bali.

Pemerintah Provinsi Bali, bekerja sama dengan BNPB, segera menetapkan status tanggap darurat bencana selama satu pekan untuk mempercepat proses evakuasi dan penanganan korban. Ribuan personel gabungan dari Tim SAR, TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk menyisir lokasi-lokasi terdampak, mengevakuasi warga yang terjebak, dan mendistribusikan bantuan logistik ke posko-posko pengungsian. Presiden Prabowo Subianto juga telah meninjau langsung lokasi bencana dan menginstruksikan jajarannya untuk memastikan penanganan pascabencana berjalan cepat dan tepat sasaran.

Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemicu utama banjir adalah curah hujan harian yang mencapai level ekstrem. Namun, para ahli lingkungan juga menyoroti faktor antropogenik yang memperparah dampak bencana. Alih fungsi lahan yang masif, penyempitan dan pendangkalan daerah aliran sungai (DAS), serta sistem drainase perkotaan yang tidak memadai disebut sebagai kontributor signifikan yang membuat air hujan tidak dapat terserap dan tertampung dengan baik, sehingga meluap dan menerjang permukiman warga.

Kini, saat banjir mulai surut di sebagian besar wilayah, pemerintah daerah bersama masyarakat tengah fokus pada fase pemulihan. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak menjadi prioritas utama. Bencana ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak akan pentingnya tata ruang yang berkelanjutan dan upaya mitigasi bencana yang lebih serius di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata.


Posting Komentar

0 Komentar